Selasa, 11 Agustus 2015

PERANAN BANK MARKETING DALAM PENGEMBANGAN KEUANGAN MIKRO & PEMBANGUNAN IMAGE PRODUK PERBANKAN




Sensazione

Penghalusan Panca Indra secara Terus-Menerus, Terutama Penglihatan, sebagai Sarana untuk Menghidupkan Pengalaman.
-Leonardo Da Vinci

Pendahuluan

            Dalam era perdagangan bebas (AFTA) saat ini yang penuh dengan ketidakpastian dan persaingan yang semakin kompetitif, menuntut suatu bank sebagai sebuah lembaga keuangan yang berfungsi sebagai lembaga perantara (Intermediary Institution) antara penanam modal/investor/nasabah dengan penerima kredit/obligor/kreditur, untuk meningkatkan kualitas dalam hal jasa pelayanan nasabah (Consumer Banking Services). Interaksi antara kedua belah pihak (nasabah dan kreditur) menghasilkan suatu synergy yang saling menguntungkan (win-win solution) dan memberikan nilai tambah (added value) kepada bank yang bersangkutan.

Bank Marketing

            Faktor terpenting yang mempengaruhi aktivitas jasa pelayanan nasabah adalah aspek pemasaran, atau yang lebih dikenal sebagai Bank Marketing. Dalam mengkaji pasar perbankan, masalah kebutuhan nasabah merupakan masalah utama (Customer is #1). Kebutuhan nasabah biasanya dikenal melalui survey/penelitian. Dengan mengadakan pengelompokan (grouping) nasabah, kebutuhan (needs) jenis produk perbankan dapat ditentukan. Di lain pihak, lazimnya bank akan berusaha mengenali pula karakteristik pasar/industri yang ada. Hal ini dilakukan sebagai salah satu syarat dalam pengambilan keputusan (management) untuk penjualan produk perbankan dan pemberian kredit.     Karakteristik pasar perbankan dapat dikelompokan menjadi 4 bagian :
            1. Karakteristik  Pasar
            2. Karakteristik Pelayanan
            3. Karakteristik Persaingan
            4. Karakteristik Pelayanan

Selain itu, aspek lain yang tidak kalah pentingnya dalam pemasaran adalah daya tarik pasar, yang terdiri dari :
            1. Luas Pasar
            2. Pertumbuhan  pasar masa lampau dan proyeksinya (Past to Present
Growth)
            3. Jumlah Pesaing
            4. Konsentrasi Pesaing
            5. Profitabilitas pasar serta trend terkini
            6. Tingkat Diferensiasi produk
            7. Tingkat Intensitas Modal
            8. Kekuatan Relatif Nasabah

            Salah satu implementasi dalam kegiatan pemasaran perbankan adalah peningkatan kualitas produk perbankan serta pengembangannya. Produk perbankan merupakan hasil kegiatan operasional bank dan berkaitan erat dengan pengelolaan portofolio bank. Manajemen portofolio meliputi 5 prinsip :
            1. Tingkat Pendapatan (Rate of Return)
            Produk   yang   dihasilkan   bertujuan  untuk  memperoleh  pendapatan
           optimal dan cukup menghasilkan laba usaha.

            2. Resiko
            Berbagai   macam   produk   yang   dihasilkan   bank,  masing - masing
           mengandung resiko. Karena itu, dalam mengembangkan suatu produk,
           faktor resiko akan sangat menentukan.
            3. Diversifikasi
            Diversifikasi produk sangat besar peranannya untuk mengurangi resiko
            . karena itu,   diversifikasi  sangat  penting  artinya  dalam  pengelolaan
            portofolio  atau  produk.  Dengan berbagai macam jenis pinjaman yang
            diberikan  oleh  bank  dan  mencakup  berbagai sektor kegiatan usaha,
            maka  resiko  kemacetan  kredit  yang  mungkin  pada beberapa sektor
            ekonomi  (karena  perkembangan  yang  kurang  menguntungkan pada
            sektor - sektor  tersebut) tidak meliputi sebagian besar jumlah pinjaman
            yang diberikan.

            4. Hedging
            Berbagai upaya untuk melindungi atau mencegah timbulnya keadaan
            yang tidak diinginkan dalam mengadakan pelayanan merupakan salah
            satu faktor yang perlu dilakukan dalam operasional bank.
           
            5. Leveraging
            Leveraging  terjadi  karena  peningkatan  biaya tetap (fixed cost)  suatu
            bank  bersifat  sebagai  lever (pengungkit) karena terjadinya perubahan
            dalam  hasil  (revenue),  dapat  mengakibatkan perubahan pendapatan
            bersih  (net income).  Ada   2   cara   untuk  meningkatkan  biaya  tetap
            sebagai  proporsi  dari  biaya  totalnya.  Cara pertama adalah apa yang
            disebut  dengan  Financial  Leverage  atau  Capital Structure Leverage,
            dimana bank melalui suatu pinjaman dana membiayai portofolio asset-
            nya. Cara kedua lazimnya disebut dengan Operating Leverage, dimana
            suatu bank meningkatkan proporsi tetapnya dalam seluruh produknya.

            Pada dasarnya jenis produk perbankan yang pokok adalah deposito (dalam arti jenis berbagai macam jenis simpanan) dan pinjaman (kredit). Melalui proses diversifikasi produk perbankan tersegmentasi (break down) ke dalam berbagai macam jenis produk perbankan yang sesuai dengan kebijakan intern masing-masing bank. Hal ini berfungsi sebagai penambah daya tarik terhadap produk perbankan. Hal yang bersifat umum dan sering kita amati dari previllage/feature produk perbankan adalah suku bunga bersaing, biaya pajak murah, tingkat resiko rendah, dan hadiah.
            Penentuan harga dari jenis produk perbankan merupakan masalah yang cukup krusial. Hal ini dapat dipahami karena erat kaitannya dengan pendapatan bank. Penentuan harga dapat berupa penentuan bunga, baik bunga kredit maupun dana, fee, komisi, diskonto, biaya-biaya administrasi lainnya. Dalam penentuan suku bunga kredit terhadap nasabah, terdapat beberapa cara :
            1. Cost plus Pricing
            Cara  ini  didasarkan  atas  penambahan  biaya  dana  (Cost  of Funds)
            dengan sejumlah laba tertentu.

            2. Marginal Pricing
            Dalam  hal  ini  suku  bunga kredit ditetapkan atas dasar marginal cost,
            dapat  diartikan  sebagai  direct cost,   yaitu   biaya   bunga  dana  yang
            dibayarkan kepada nasabah yang bersangkutan.

            3. Non Costing Pricing
            Dalam non costing pricing, bank menentukan suku bunga bedasarkan
            atas bunga yang berlaku dipasar.

            4. Penetration Pricing
            Penentuan/determinan  suku  bunga  dengan  trik  penentration  pricing
            dimaksudkan  agar   dapat   dominan  dalam  lingkungan  suatu  pasar.
            Tingkat  suku  bunga  dapat ditetapkan dibawah suku bunga di pasaran
            (marginal cost) atau mungkin SBI.
           
            5. Skimming pricing
            Kebalikan  dari  petration pricing,  maka  pada  skimming  pricing,  bank
            menetapkan  suku bunga lebih tinggi dari bunga pasar dengan maksud
            untuk  memberi  kesan  bahwa  bank  yang  bersangkutan adalah bank
            yang cukup salid dan memberi pelayanan yang cukup memuaskan.

            Dalam hal penentuan harga, banyak faktor yang berpengaruh dan perlu mendapat pertimbangan. Faktor kesan/citra (image) terhadap suatu bank dapat menentukan produk atau pelayanan yang memperoleh harga tinggi atau rendah. Suatu jasa perbankan bisa dikatakan bernilai harga tinggi atau rendah.
            Dalam penetapan bunga, lazimnya suatu bank menentukan bunga dasar (prime rate). Bunga dasar dapat dihitung dari biaya dana (Cost of Funds) ditambah biaya overhead. Biaya dana dihitung atas dasar dana yang dapat dikreditkan (Loanable Funds), sehingga bunga dana bisa dikatakan sebagai Cost of Loanable Funds. Bunga dasar dianggap sebagai indikator untuk menetapkan suku bunga kredit, juga sebagai tingkat suku bunga kredit minimum yang dihitung bedasarkan struktur biaya suatu bank. Secara umum/garis besar (generalisasi) bisa dikatakan perbandingan/ratio antara total revenue dengan total cost  merupakan harga relatif dari semua produk perbankan.

Preferensi Nasabah

            Jika peningkatan kualitas suatu produk perbankan serta pengembangannya mencapai tujuan (sukses), langkah/step berikutnya adalah mengamati/meneliti prilaku/preferensi nasabah terhadap produk perbankan yang ditawarkan. 4 asumsi dasar mengenai preferensi nasabah dapat kita ilustrasikan/ model dari perspektif nasabah terhadap produk perbankan A dengan produk perbankan lainnya. Asumsi ini berlaku umum dalam berbagai situasi :
            1. Asumsi Kelengkapan
            Preferensi   adalah   lengkap,   yang   berarti   bahwa   nasabah   dapat
            membandingkan  dan  menilai  semua produk perbankan. Dengan kata
            lain,  untuk setiap 2 produk perbankan A dan B, seorang nasabah akan
            lebih  suka  A  daripada  B,  lebih  suka  B  daripada  A, atau tidak acuh
            terhadap kedua-duanya (indiffrerence). 
           
            2. Asumsi Konsistensi
            Preferensi  adalah  transitif.  Transitivitas berarti  jika  seorang nasabah
            lebih  suka  produk perbankan A daripada B, dan lebih suka B daripada
            C, maka nasabah lebih suka A daripada C

            3. Asumsi Tanpa Kepuasan
            Semua  produk  perbankan  adalah keinginan/want’s, sehingga dengan
            mengesampingkan   biaya-biaya,   nasabah  selalu  ingin  lebih  banyak
            dengan setiap produk daripada lebih sedikit.

            4. Asumsi Konveksitas (Bentuk Cekung)
            Nasabah  memang  tidak  memiliki  produk  perbankan karena mungkin
            memang tidak perlu.

            Setiap nasabah menghadapi pilihan untung rugi (trade-off) bila memilih antara 2 produk perbankan atau lebih, dan kurva ketidakacuhan dapat membantu menjernihkan pilihan untung rugi tersebut. Kurva ketidakacuhan pada gambar 1 mengilustrasikan hal ini. Dengan mulai pada produk perbankan A bergerak ke paket pasar B, terlihat bahwa nasabah bersedia menyerahkan 6 unit produk A untuk memperoleh 1 unit produk B ekstra. Namun, bergerak dari B ke D, nasabah bersedia menyerahkan 4 unit produk A untuk memperoleh 1 unit produk ekstra, dan sambil bergerak dari D ke E, nasabah akan menyerahkan 2 unit produk A untuk 1 unit produk B. Semakin banyak Produk A dan semakin sedikit produk B yang dimiliki nasabah, semakin banyak produk A yang dikorbankan untuk memperoleh lebih banyak lebih banyak produk B. Sebaliknya, semakin banyak produk B yang dimiliki nasabah, semakin sedikit produk A yang disetor/transfer untuk memperoleh lebih banyak produk B. Proses pemilihan /seleksi untung-rugi, dapat kita amati dalam manajemen portofolio dalam bentuk  tabel 1quantity indifference.    

Produk B/unit

Produk A/unit

Kombinasi

1
16
A
2
10
B
3
6
D
4
4
E
5
2
G
Tabel 1. Schedule Indifference




            Bentuk kurva ketidakacuhan dapat mensiratkan berbagai tingkat kesediaan untuk menggantikan suatu produk perbankan dengan bentuk lainnya. Dalam istilah perbankan, dikenal sebagai tingkat diferensiasi produk perbankan. Kurva ketidakacuhan juga menggambarkan preferensi nasabah untuk berbagai kombinasi produk perbankan. Preferensi tidak menjelaskan keseluruhan prilaku nasabah. Berbagai pilihan nasabah juga dipengaruhi oleh kendala anggaran, atau yang lebih dikenal dalam istilah perbankan sebagai saldo minimum yang membatasi kemampuan nasabah untuk memiliki dalam batas harga-harga yang harus disetorkan/transfer untuk berbagai macam produk perbankan.
            Dari persamaan garis lurus, terlihat bahwa perubahan dalam pinjaman/loan mengubah perpotongan vertikal garis anggaran, tetapi tidak mengubah permukaan garis (karena harga kedua produk tidak berubah). Gambar 2 menunjukkan bahwa jika pinjaman digandakan (dari $80 ke $160), maka garis anggaran pinjaman bergeser ke luar (dari garis anggaran L1 ke garis anggaran L2). Jika nasabah mengiginkan, dapat menggandakan kepemilikan untuk produk A maupun produk B. Demikian pula, apabila pinjaman dipotong menjadi setengah ($80 menjadi $40), maka garis anggaran bergeser ke dalam dari L1 ke L3.            


            Secara notatif, keterbatasan/kendala anggaran (budget contraint) adalah jumlah pinjaman yang tersedia bagi seorang nasabah selama periode tertentu serta harga-harga yang harus dibayarkan nasabah untuk memperoleh berbagai macam produk perbankan. Faktor penentu dari daya beli (purchasing power), atau yang lebih dikenal dalam istilah perbankan sebagai daya tarik nasabah, yakni kemampuan untuk membeli produk perbankan. Daya tarik tidak hanya ditentukan oleh pinjaman, tetapi juga oleh harga-harga.
            Dengan diketahuinya preferensi dan kendala anggaran, dapat menentukan bagaimana nasabah perorangan memilih barapa banyak dari setiap produk yang akan dimiliki. Suatu asumsi bahwa nasabah membuat pilihan dengan cara yang rasional, bahwa tujuan pemilihan produk untuk memaksimalkan kepuasannya yang dapat dicapai, dengan tersedianya anggaran yang terbatas. Paket produk yang maksimal harus memenuhi 2 syarat :  Pertama, Kurva harus berada pada garis anggaran. Kedua, memberikan kepada nasabah kombinasi yang paling disukai dari produk A dan produk B.Kedua syarat ini mengurangi masalah pemaksimalan kepuasan konsumen dengan memilih titik yang cocok pada garis anggaran.
   


            Nasabah memaksimalkan kepuasannya dengan memilih paket produk A. Pada titik ini garis anggaran dan kurva ketidakacuhan U2 bersentuhan, dan tidak ada tingkatan kepuasan lebih tinggi yang dapat dicapai (misalnya, dengan paket produk D). Pada A, sebagai titik maksimum, maka tingkat subtitusi marginal (MRS) antara 2 produk sama dengan perbandingan harga. Namun pada B, MRS(-(-10/10)=1) > perbandingan harga (1/2), sehingga kepuasan tidak maksimal. Definisi dari tingkat subtitusi marginal adalah jumlah unit produk B yang harus dikorbankan atau dilepas demi memperoleh tambahan 1 unit produk A, tanpa mengubah tingkat nasabah. Perlu dikemukakan disini bahwa proses pemaksimalan/optimalisasi berlaku untuk proses pembuat keputusan (Decision Maker) agen ekonomi secara individual (nasabah perorangan). Selanjutnya, kita menghadapi banyak individu (Corporate) yang saling berinteraksi di pasar. Di sana kita akan menemukan proses pencapaian ekuilibrium yang berlangsung secara umum. Ekuilibrium adalah sesuatu yang lebih mengacu pada konteks pembuat keputusan oleh pasar secara keseluruhan. Ekuilibrium didefinisikan secara singkat sebagai situasi dimana berbagai kekuatan berfungsi sebagai sebuah sistem (biasanya berupa sebuah pasar atau sistem penawaran & permintaan) sehingga menghadirkan kondisi keseimbangan yang cenderung menetap/konstan (tidak berubah).
            Pembahasan/pengkajian telah kita lakukan secara teoritis dalam ruang lingkup ekonomi mikro. Selanjutnya, secara empirik/realitas dalam dunia nyata/kehidupan sehari-hari tentang pasar produk dan prilaku nasabah. Pasar produk terdiri dari semua individu (nasabah) dan kelembagaan yang melakukan transaksi untuk memiliki produk perbankan.
            Pada tahap permulaan, pihak perbankan dapat memperoleh suatu pengertian yang jelas mengenai nasabah, melalui pengalaman sehari-hari pada saat menawarkan produk perbankan kepada nasabah. Tahap selanjutnya, pihak perbankan terfokus pada kegiatan penelitian nasabah. Dengan mengeluarkan anggaran biaya yang cukup besar sebagai pendanaan untuk penelitian nasabah dalam upaya mempelajari: Siapakah nasabah itu ? Bagaimana nasabah melakukan transaksi ? Kapan nasabah melakukan transaksi ? Titik tolak dari semua pertanyaan diatas adalah model rangsangan-jawaban (stimulus-respons). Tugas dari Bank marketer adalah memahami apa yang terjadi dalam kotak hitam (Black Box) nasabah, diantara rangsangan dan jawaban. Kotak hitam nasabah mengandung 2 komponen; pertama, karakteristik nasabah yang mempunyai pengaruh utama (Core Influence), bagaimana respon nasabah terhadap rangsangan tersebut. Kedua, proses keputusan pembeli yang mempengaruhi hasil keputusan.
            4 Asumsi Dasar mengenai preferensi nasabah, dapat dikatakan sebagai pengelompokan/segmentasi nasabah. Bank marketer mengidentifikasi kelompok referensi dari para nasabah yang menjadi target/sasaran mereka. Seorang nasabah dipengaruhi oleh kelompok referensinya melalui 3 cara :
1.    Kelompok referensi menghadapkan seseorang pada prilaku dan gaya hidup.
2.   Kelompok referensi mempengaruhi sikap dan gambaran diri nasabah karena secara normal setiap individu menginginkan untuk “menyesuikan diri”/adaptasi.
3. Kelompok referensi menciptakan suasana untuk penyesuaian yang dapat mempengaruhi pilihan nasabah terhadap suatu produk perbankan.

Keadaan ekonomi seseorang akan besar pengaruhnya terhadap pilihan produk, seperti yang telah kita uraikan sebelumnya. Keadaan ekonomi terdiri dari asset/liability yang dapat kita investasikan, kemampuan meminjam/loan, dan sikapnya terhadap income versus outcome(cashflow). Jika indikator-indikator ekonomi menunjukkan resesi, maka marketer dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang kembali (reenginering), menentukan kembali karakteristik yang menonjol, menetapkan kembali harga produk perbankan sehingga mereka tetap mampu menarik para nasabah/investor.
Pembangunan Brand Image
            Prilaku dan gaya hidup menimbulkan peranan dan status. Setiap peranan akan mempengaruhi prilaku nasabah yang membawa sebuah status yang mencerminkan suatu penghargaan yang diterima. Nasabah sering memilih produk perbankan untuk menyatakan peranan dan status yang berpotensi sebagai simbol status, atau dalam istilah marketing lebih dikenal dengan Brand Image.
            Secara individual (nasabah perorangan), marketer mempergunakan konsep diri/citra diri/image. Marketer perlu berusaha untuk mengembangkan citra produk yang serasi/compatible dengan citra diri pasar sasaran/target market. Pilihan nasabah juga dipengaruhi oleh 4 faktor psikologis utama :
1.    Motivasi
Teori motivasi mengandung 2 implikasi. Pertama, para marketer harus melakukan tindakan preventif terhadap kelemahan/kegagalan dalam jasa pelayanan nasabah (customer service). Kedua, pihak product development perlu mengenal secara cermat faktor-faktor utama yang memuaskan atau mendorong prilaku nasabah dalam pasar produk perbankan (retail/money market) dan memastikan sebagai masukan/input faktor tersebut dalam usaha pemasaran produk perbankan.

2.    Persepsi
Nasabah yang termotivasi, siap untuk melakukan suatu interaksi/do it. Nasabah melakukan sesuatu, dipengaruhi oleh persepsi terhadap situasi/kondisi yang dihadapinya. Persepsi dapat berbeda untuk setiap nasabah , tergantung pengindraan yang diterima oleh alat indra: Penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan perasaan plus intuisi/6th sense. Penglihatan berfungsi untuk memilih, pendengaran berfungsi untuk mengorganisasi, penciuman dan perabaan berfungsi untuk menciptakan symbol status/image, dan intuisi berfungsi untuk memprediksi/forecast dari berbagai symbol status yang bermakna tentang dunia.

3.    Belajar
Nasabah menanggapi sejumlah besar rangsangan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dikatakan sebagai proses pembelajaran. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi proses seleksi/prioritas dari setiap rangsangan yang direspon. Penerimaan informasi terpilih menuntut marketer untuk bekerja keras agar memikat perhatian konsumen (daya tarik), perubahan makna secara selektif  (selective distortion) menggambarkan kecendrungan nasabah untuk mengartikan/menganalisa/mengejawantahkan informasi sesuai dengan pengertiannya sendiri (skeptis). Nasabah cenderung untuk mengingat kembali secara selektif (selective retention)/flash back informasi yang mendukung sikap dan kepercayaannya.

4.    Kepercayaan (trust) dan sikap (attitude)
Melalui proses pembelajaran, nasabah memperoleh kepercayaan dan sikap kehati-hatian (prudential). Suatu kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang dianut oleh individu tentang sesuatu, kepercayaan mengandung unsur perasaan. Kepercayaan membentuk citra produk (Product Image). Sikap menggambarkan penilaian kognitif  yang baik atau buruk, perasaan emosional, kecendrungan melakukan yang bertahan selama periode tertentu terhadap beberapa obyek atau gagasan.

Gambar 4 merupakan diagram alur tentang preferensi nasabah terhadap suatu produk perbankan. Dimulai dengan preferensi nasabah tentang suatu produk sampai dengan keputusan nasabah akan melakukan transaksi pembelian  produk perbankan atau tidak.  



            Berdasarkan kajian terhadap laporan nasabah secara umum tentang proses transaksi beli. Model tahapan dari proses transaksi telah di konseptualisasi oleh para peneliti prilaku nasabah. 5 Tahapan yang dilalui oleh nasabah adalah sebagai berikut :
1.    Pengenalan Masalah
             Marketer   perlu   mengenal  berbagai  hal  yang dapat mengerakkan kebutuhan/needs
            atau minat nasabah.

2.    Pencarian/InQuery Informasi
Jika keinginan/wants nasabah kuat, dan obyek yang dapat memuaskan/satisfact kebutuhan/needs tersedia (available), nasabah akan membeli obyek tersebut. Jika tidak, kebutuhan nasabah tinggal mengendap dalam ingatannya. Nasabah mungkin tidak berusaha untuk memperoleh informasi atau sangat aktif mencari informasi sehubungan dengan kebutuhan/produk.

3.    Penilaian Alternatif
Model terkini tentang proses evaluasi adalah orientasi kognitif, yaitu memandang nasabah sebagai pembuat pertimbangan/adjustment mengenai produk perbankan berlandaskan nalar yang sadar dan rasional.

4.    Keputusan Membeli/Transaksi
Tahap penilaian keputusan menyebabkan nasabah membentuk pilihan mereka yang tergabung dalam perangkat pilihan/Top Rank. Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh faktor situasional yang tidak terduka. Karena itu, pilihan pembelian bukan merupakan indikator mutlak tentang prilaku pembelian.

5.    Prilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli suatu produk, nasabah akan mengalami beberapa tingkat kepuasan (satisfaction) atau ketidakpuasan/kecewa/hopeless. Tugas marketer tidak hanya menjual produk, namun secara kontinu memberikan jasa pelayanan nasabah (customer service) hingga periode waktu pasca/purna pembelian. Kepuasan/satisfaction nasabah adalah sebuah fungsi fungsi dari jarak/vektor produk menurut harapan konsumen dan pandangan prestasi/reward/award. Jika produk perbankan tersebut dibawah tingkat yang diharapkan, nasabah merasa tidak puas.

Perlu digarisbawahi bahwa tahapan ini tidak hanya bersifat berurutan/sequens, tetapi juga dapat bersifat tidak berurutan/acak/random. Gambar 5 merupakan tahapan transaksi /pembelian suatu produk perbankan.
 


Penetapan harga merupakan suatu permasalahan dalam meluncurkan/launching produk perbankan agar diminati oleh nasabah. Prosedur menetapkan harga adalah sebagai berikut :
 
1.    Memilih Tujuan Penetapan Harga/Saldo Minimum
Strategi penetapan harga sebagian besar ditentukan oleh keputusan sebelumnya/selective retention dalam penempatan pasar. Bank dapat bertahan (survive) sebagai tujuan jika mengalami over capacity, persaingan yang kompetitif, atau perubahan keinginan (wants) nasabah. Bank menetapkan harga yang memaksimalkan labanya jika memperkirakan bahwa permintaan dan biaya sehubungan dengan berbagai pilihan/alternative harga dan memilih harga yang akan menghasilkan laba, arus kas/cash flow, atau pengembalian investasi/revenue yang optimal/maksimum. Bank menetapkan harga yang akan memaksimalkan pendapatan dari penjualan produk. Maksimalisasi pendapatan hanya membutuhkan perkiraan fungsi permintaan bank yang akan memaksimalkan pendapatan dari penjualan produk. Maksimalisasi pendapatan hanya membutuhkan perkiraan fungsi permintaan bank yang akan menetapkan harga minimum dangan maksud untuk memaksimalkan unit penjualan produk perbankan, dengan mengasumsikan bahwa pasar sensitif terhadap harga. Hal ini disebut sebagai Penetapan Harga Penetrasi Pasar.

2.    Menentukan Permintaan
Setiap harga yang dikenakan bank akan menghasilkan tingkat permintaan yang berbeda sehingga memberikan pengaruh yang berbeda pada tujuan pemasaran. 2 Cara untuk memperkirakan permintaan . Pertama, mengasumsikan bahwa harga pesaing akan konstan tanpa memperhatikan harga yang ditetapkan bank . Kedua, mengasumsikan bahwa pesaing menetapkan harga yang berbeda untuk setiap harga yang dikenakan bank dalam mengukur hubungan antara harga dan permintaan, marketer harus mengendalikan atau membuka peluang adanya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi permintaan. Jika bank meningkatkan biaya iklan, pada saat yang sama akan menurunkan harga untuk menambah volume penjualan produk perbankan. Marketer perlu mengetahui tingkat responsif (sensitivitas) permintaan terhadap perubahan harga. Jika permintaan hampir tidak berubah (konstanta = 1) dengan adanya perubahan kecil pada harga, dikatakan permintaan elastis. Jika permintaan elastis, marketer akan mempertimbangkan/menyesuaikan untuk menurunkan harga. Harga yang rendah, dengan asumsi bahwa volume penjualan produk tinggi akan menghasilkan total pendapatan yang lebih besar.

3.    Memperkirakan Biaya
Permintaan umumnya menetapkan batas harga tertinggi yang dapat dikenakan bank atas produknya. Bank menetapkan batas terendah untuk biaya. Hal ini dilakukan untuk tujuan efisiensi. Penetapan biaya sasaran/target merupakan suatu perbaikan/revisi dari metode normal pengembangan produk baru, perkiraan biaya, dan penentuan biaya. Sebaliknya, penetapan biaya sasaran mengeluarkan biaya selama tahap perencanaan dan perancangan, bukan untuk mengubah biaya setelah produk tersebut diperkenalkan.

4.    Menganalisis Biaya, Harga, dan Penawaran Pesaing
Jika permintaan pasar menetapkan batas/price ceiling tertinggi dan biaya bank menetapkan batas terendah untuk penetapan harga, maka biaya dan harga pesaing serta peluang/kemungkinan reaksi harga membantu bank menetapkan harga yang akan ditentukan. Bank butuh suatu standarisasi/patokan, yaitu nilai tukar/exchange rate dan SBI untuk membandingkan biaya intern dengan biaya pesaing untuk mengetahui apakah biaya dan produk perbankan lebih tinggi atau lebih rendah. Jika bank mengetahui harga dan penawaran pesaing, ia dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam intern harga jika penawaran bank sama dengan penawaran pesaing/kompetitor. Bank harus menetapkan harga mendekati harga pesaing atau kehilangan penjualan produk. Bank harus menyadari bahwa pesaing dapat mengubah harganya untuk menanggapi/merespon harga dari bank yang bersangkutan. Pada dasarnya bank akan menggunakan harga untuk menempatkan penawaran produknya dibandingkan dengan pesaingnya.

5.    Memilih Metode Penetapan Harga
Bank memberikan 3 solusi dalam masalah penetapan harga, yaitu : Pertama, penetapan harga markup/suku bunga/rate sebagai standar laba. Kedua, penetapan harga bedasarkan sasaran pengembalian, dengan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian (revenue) atas investasi yang diinginkan. Ketiga, penempatan harga bedasarkan nilai yang diyakini sesuai dengan pandangan/pemikiran penempatan suatu produk. Bank mengembangkan konsep produk untuk pasar sasaran/target tertentu dengan mutu/kualitas dan harga yang telah direncanakan.

6.    Memilih Harga Akhir
Metode penetapan harga (point 5) telah mempersempit/memfokuskan ruang lingkup/scoope kisaran harga yang akan dipilih sebagai harga akhir (final price).

Kesimpulan

            Kesimpulan dari topik pembahasan ini adalah bahwa pengembangan ekonomi mikro yang bertujuan untuk penghematan/efesiensi biaya. Penetapan harga yang didukung/follow up informasi yang akurat, membuka peluang/memberikan harapan untuk meningkatkan kuantitas/volume penjualan produk perbankan yang tentu saja meningkatkan pendapatan secara optimal. Synergy antara penghematan biaya dan peningkatkan pendapatan akan menghasilkan ekuilibrium /keseimbangan yang memberikan nilai tambah/added value/non profit dalam pengambilan suatu keputusan. Perlu dijelaskan disini, bahwa dampak positif dari pengembangan ekonomi mikro bersifat introvet ke dalam internal bank. Hal ini dapat disebut sebagai kerahasiaan/confidental bank.
            Pembangunan citra/image produk lebih dititik beratkan dalam bidang psikologi industri/perbankan dalam menilai secara kualitas produk perbankan melalui preferensi nasabah. Karakteristik produk perbankan harus memberikan daya tarik/pikat terhadap nasabah. Jasa pelayanan nasabah (customer service) yang bersifat berkesinambungan/kontinu akan meningkatkan kepuasan nasabah, sehingga loyalitas dapat dipertahankan. Pembangunan image bersifat ekstrovet keluar, dan harus disebarkan seluas-luasnya kepada nasabah dan masyarakat melalui promosi dan iklan. 2 Indikator yang bersifat kuantitas dan kualitas dalam ruang lingkup bank marketing menjadi faktor penentu untuk membangun image yang kuat bagi suatu produk perbankan.

2 komentar:

  1. Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan hubungi
    Ki Witjaksono di:0852-2223-1459
    Atau kunjungi website

    Klik-> PESUGIHAN DANA GAIB

    ingat kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya

    BalasHapus
  2. Nilah solusi terbaik untuk kebebasan finansial, menjadikan tahun Anda sukses dengan mengunjungi layanan pinjaman christian morgan dimana Anda bisa mendapatkan pinjaman untuk memulai bisnis impian Anda tanpa stres dan mendapatkan pinjaman Anda disetujui dalam satu minggu .. Apakah Anda mencari pinjaman? Atau pernahkah Anda ditolak pinjaman oleh bank atau lembaga keuangan untuk satu atau lebih alasan? Anda memiliki tempat yang tepat untuk solusi pinjaman Anda di sini! Kami memberikan pinjaman kepada perusahaan dan individu dengan tingkat bunga rendah dan terjangkau sebesar 2%. Silahkan hubungi kami melalui e-mail hari ini melalui christianmorganloanservices@gmail.com

    DATA PEMOHON:

    1) Nama Lengkap:
    2) Negara:
    3) Alamat:
    4) Negara:
    5) Jenis Kelamin:
    6) Status Perkawinan:
    7) Pekerjaan:
    8) Nomor Telepon:
    9) Posisi di tempat kerja:
    10) Pendapatan bulanan:
    11) Jumlah Pinjaman yang Dibutuhkan:
    12) Durasi Pinjaman:
    13) Pinjaman Bunga:
    14) Agama:
    15) Sudahkah anda melamar dulu;
    16) tanggal lahir;

    Terima kasih,
    Ibu Christian

    BalasHapus